Inti Berita:
- Untuk pertama kalinya digelar malam hari tanpa barikade, 5th Blitar Ethnic National (BEN) Carnival 2026 sukses memikat ribuan penonton di Jalan Merdeka (22/8/2026).
- Mengusung tema “Nusantara Retrofuturism: Harmoni Tradisi Menuju Kota Masa Depan”, ajang ini menyuguhkan 40 penampilan kostum etnik modern.
- Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin (Mas Ibin) menegaskan karnaval ini sebagai sarana merawat kemajemukan bangsa dalam bingkai peringatan HUT Kemerdekaan RI.
Blitar, Ikijatim.com— Sepanjang Jalan Merdeka Kota Blitar berubah menjadi panggung megah berbalut cahaya gemerlap pada Sabtu malam (22/8/2026). Ribuan warga tumpah ruah memadati pusat kota demi menyaksikan perhelatan akbar tahunan, 5th Blitar Ethnic National (BEN) Carnival 2026.
Pada edisi kelima ini, parade kebudayaan tersebut mencatatkan sejarah baru karena untuk pertama kalinya digelar pada malam hari dengan menyuguhkan 40 penampilan artistik yang memadukan keanekaragaman tradisi Nusantara dan sentuhan futuristik.
Karnaval tahun ini tampil istimewa dengan mengusung tema “Nusantara Retrofuturism: Harmoni Tradisi Menuju Kota Masa Depan”.
Inisiatif penyelenggaraan pada malam hari memberikan atmosfer yang lebih sejuk dan nyaman bagi para penonton, sekaligus menghadirkan visualisasi kostum berhias tata cahaya artistik yang memukau.
Baca Juga: BYCN Sukseskan Gintangan Bamboo Attraction 2026 di Banyuwangi
Mas Ibin: Rawat Kemajemukan Bangsa Melalui Parade Budaya
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, atau yang akrab disapa Mas Ibin, menjelaskan bahwa BEN Carnival merupakan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dalam membumikan kekayaan adat dan budaya Nusantara kepada masyarakat luas, sekaligus menyemarakkan momentum hari kemerdekaan Republik Indonesia.
“Maka dalam merayakan hari kemerdekaan ini sekaligus kami menampilkan budaya nusantara. Agar masyarakat mengetahui, bahwa bangsa kita sangat besar, bangsa kita sangat beragam, dan bangsa kita sangat majemuk sehingga bisa menjadi satu-kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Mas Ibin.
Salah satu pembeda utama yang diapresiasi publik adalah keputusan Pemkot Blitar untuk meniadakan pagar besi pembatas atau barikade antara peserta karnaval dan masyarakat penonton.
Konsep inklusif tanpa sekat ini memungkinkan ribuan warga menyaksikan detail keindahan busana serta berinteraksi langsung dengan para penampil secara leluasa.
Baca Juga: Eri Cahyadi Tutup Panti Asuhan Ilegal Kasus Asusila di Surabaya
Konsep Retrofuturism: Membawa Kostum Tradisional Menembus Zaman
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Blitar, Rike Rochmawati, membeberkan makna di balik konsep Nusantara Retrofuturism.
Menurutnya, tema tersebut ingin membuktikan bahwa busana dan seni tradisional mampu bertransformasi secara dinamis tanpa kehilangan akar nilainya.
“Harmoni Tradisi Menuju Kota Masa Depan ini maksudnya menggabungkan visi Kota Masa Depan dengan kekayaan etnik kostum. Kostum peserta tidak hanya mereplikasi pakaian adat secara statis, tetapi juga memadukan unsur tradisional dengan sentuhan desain modern atau futuristik,” jelas Rike.