Harga Bitcoin Naik 18% Tembus 77.600 Dollar AS, Ini Pemicunya

Photo Author
Hari Agung, Ikijatim.com
- Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:42 WIB

Intisari Berita:

  • Harga Bitcoin melonjak sekitar 18 persen dalam dua hari hingga menembus level 77.600 dollar AS.
  • Kenaikan dipicu kebijakan Departemen Keuangan AS yang menggandakan batas pembelian kembali obligasi tenor panjang menjadi 4 miliar dollar AS.
  • Ekspansi likuiditas pasar dinilai analis Bernstein, Gautam Chhugani, menjadi katalis positif utama reli aset kripto.

New York, Ikijatim.com — Pasar aset kripto global kembali mencatatkan reli spektakuler setelah bergerak volatil dalam beberapa waktu terakhir. Dalam kurun waktu dua hari terakhir, harga Bitcoin (BTC) melonjak signifikan sekitar 18 persen hingga menyentuh kisaran 77.600 dollar AS. Reli kencang ini sekaligus membawa aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut menembus level psikologis 70.000 dollar AS untuk pertama kalinya sejak akhir Mei 2026.

Lonjakan harga Bitcoin dipicu oleh respons positif pelaku pasar terhadap kebijakan moneter dan fiskal Pemerintah Amerika Serikat (AS), khususnya terkait program pembelian kembali (*buyback*) obligasi negara jangka panjang. Intervensi kebijakan ini memberikan injeksi likuiditas baru ke pasar keuangan yang berdampak langsung pada penguatan aset-aset berisiko tinggi seperti kripto.

Analisis Bernstein: Ekspansi Likuiditas AS Jadi Motor Reli Kripto

Strategis dari firma riset Bernstein, Gautam Chhugani, menilai bahwa katalis utama pergerakan reli Bitcoin saat ini adalah keputusan Departemen Keuangan AS untuk memperbesar skala pembelian kembali obligasi pemerintah tenor panjang. Menurutnya, pergerakan harga Bitcoin memiliki korelasi historis yang kuat dengan ketersediaan likuiditas di sistem keuangan global.

“Kami bukan ahli makroekonomi, tetapi kami tahu Bitcoin secara historis memberikan respons positif terhadap ekspansi likuiditas,” ujar Chhugani dalam catatannya.

Sebelum lonjakan ini terjadi, minat terhadap aset kripto sempat tertekan akibat kondisi pasar keuangan yang mengetat, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah pascakonflik Iran, serta meningkatnya risiko inflasi global. Situasi tersebut sempat memicu perpindahan arus modal (*capital outflow*) dari pasar kripto menuju sektor teknologi lain yang dianggap lebih prospektif, terutama kecerdasan buatan (*artificial intelligence*/AI) dan industri semikonduktor.

Departemen Keuangan AS Gandakan Pembelian Kembali Obligasi Jadi 4 Miliar Dollar AS

Sebagai langkah stabilisasi pasar, Departemen Keuangan AS mengumumkan kenaikan batas maksimum pembelian kembali obligasi jangka panjang dari sebelumnya 2 miliar dollar AS menjadi 4 miliar dollar AS per sesi. Intervensi pasar sekunder ini menyasar langsung surat utang *US Treasury* bertenor 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun.

Langkah *buyback* tersebut dirancang untuk menyuntikkan likuiditas ke pasar sekunder, menstabilkan harga obligasi yang terus tertekan, sekaligus meredam lonjakan imbal hasil (*yield*) yang berisiko menaikkan beban biaya pinjaman bagi konsumen maupun korporasi.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Kamis (20/8/2026) menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas imbal hasil obligasi negara.

Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa dirinya memiliki “banyak perangkat” untuk terus menangani kenaikan imbal hasil obligasi.

Faktor Penentu Pergerakan Harga Bitcoin dan Prospek Mendatang

Dinamika harga Bitcoin secara konsisten dipengaruhi oleh integrasi faktor makroekonomi dan sentimen pasar global, yang mencakup beberapa aspek utama:

  • Likuiditas Pasar: Peningkatan likuiditas dalam sistem keuangan AS memberikan dorongan modal langsung ke pasar aset digital.
  • Regulasi Aset Digital: Kejelasan dan kepastian regulasi dari otoritas berwenang memberikan keyakinan bagi investor institusional.
  • Kondisi Geopolitik: Ketidakpastian konflik global seperti ketegangan Iran dan tekanan inflasi memicu volatilitas sentimen.
  • Rotasi Arus Dana: Dinamika pergeseran aliran modal antara pasar kripto dengan sektor AI dan semikonduktor.

Pandangan Ahli dan Tips Manajemen Risiko bagi Investor

Chhugani memberikan catatan bahwa kendati Bitcoin membukukan kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir, perlambatan momentum tetap berpotensi terjadi apabila stabilitas pasar keuangan terganggu. Kendati demikian, prospek jangka panjang Bitcoin tetap dinilai positif selama dukungan likuiditas dan kejelasan regulasi terus berjalan beriringan.

Bagi para investor dan pelaku pasar, penerapan prinsip kehati-hatian tetap menjadi prioritas dengan memperhatikan langkah-langkah berikut:

  1. Memantau secara berkala arah kebijakan pemerintah dan perkembangan regulasi terkait aset digital global.
  2. Menghindari keputusan spekulatif berbasis kepanikan terhadap fluktuasi harga jangka pendek.
  3. Menerapkan diversifikasi portofolio untuk memitigasi eksposur risiko pasar.
  4. Menjalankan perencanaan keuangan terukur sesuai toleransi profil risiko masing-masing.

Meskipun volatilitas masih menjadi karakteristik inheren pasar kripto, tren penguatan terbaru ini membuktikan bahwa Bitcoin tetap mempertahankan daya tarik kompetitif sebagai instrumen investasi strategis di panggung keuangan global.

Editor: Hari Agung

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X